Bersyukurlah.....

-->
Jam sudah di ponselku sudah menunjukkan pukul 14.00 WITA….peluh menetes dengan deras di dahiku. Yah, hari itu aku benar-benar lelah, sejak pagi tadi aku sudah disibukkan dengan urusan administrasi kampus, aku harus memburu deadline untuk mengadakan ujian meja bila tidak ingin membayar setahun lagi. hhhh.....Aku mulai menggerutu dengan kelakuan para petugas akademik kampus yang menurutku sering menyusahkan kami, para mahasiswa. Gerah, pegel, dan ditambah panasnya matahari siang itu kian membuatku “gondok”. Aku benar-benar kehabisan energi. Kulangkahkan kakiku yang terasa berat menuju ke luar kampus.  Seorang bocah yang tampak terengah-engah menghampiriku dengan becak tuanya. Bajunya tampak lusuh, kulitnya hitam legam, dan rambutnya yang sudah mulai memerah menggambarkan jika panasnya sang mentari sering menyengat tubuh mungilnya. Ia menawarkan jasanya. Rasa kasihan dengan anak itu, dan tubuhku yang sudah terasa tak kuat lagi untuk berjalan menuntunku untuk menerima jasa sang bocah.
Senyum mengembang dari kedua bibir mungil itu.
“Ayo kak!” Ia mempersilahkanku dengan ramah.
Jarang aku mendapatkan sapaan seramah itu dari seorang tukang becak. Para pengendara becak di kota ini memang kebanyakan berperawakan kasar, entah mengapa demikian, mungkin karena kehidupan di jalan yang keras yang menuntut mereka berlaku demikian. Atau….mungkin saja mereka sudah kehilangan etika-etika yang ada karena bergelut dengan tempat yang juga sering mengesampingkan pentingnya nilai sebuah etika.
Sang bocah mulai mengayuh becaknya, tampak ia sudah terbiasa dengan berat yang harus ia dorong dengan kedua kaki kecilnya. Heran, anak sekecil itu sudah harus mengayuh kendaraan yang membawa bobot yang pastinya lebih berat dari bobot badannya sendiri. Penasaran, aku bertanya kepada bocah tersebut, mengapa ia yang sekecil itu sudah harus mengendarai becak. Ia pun mulai bertutur bahwa ini karena tuntutan ekonomi, ia harus membantu keluarganya yang hidup pas-pasan. Ia sudah tak memiliki ayah dan sang ibu hanyalah seorang buruh cuci, tapi akhir-akhir ini sang ibu juga jarang menerima cucian karena tergeser oleh mesin ajaib yang lebih memuaskan daripada hasil cucian ibunya, tempat yang bernama “laundry” itu sudah membuat ia dan ibunya semakin terpuruk. Hati ini seakan tercabik-cabik membayangkan penderitaan bocah sekecil itu. Bocah yang seharusnya ada di bangku sekolah itu harus berusaha mencari uang sendiri demi seseuap nasi untuk menyambung hidupnya esok hari. Ia juga bertutur bahwa seringkali ia kalah bersaing dengan tukang becak lainnya. Mungkin karena postur tubuhnya yang masih kecil sehingga seringkali jika penumpang datang ia musti tersisihkan oleh tukang becak yang lebih tua dan berpostur lebih besar darinya. MasyaAllah…semakin miris rasanya mendengar cerita sang bocah.
Ketika kutanya apakah ia tidak ingin sekolah? Sang anak malah tertawa ”Kakak…kakak…jika bisa memilih, aku juga tidak ingin dilahirkan begini, aku juga ingin sekolah, ingin bermain bersama teman-teman, bermain di tempat yang aman….bukan di jalan seperti ini, kadang aku juga takut kak kalau saja tiba-tiba ada mobil menabrakku atau ada motor penyerempet becak ini…entah harus mau ganti pake apa becak sewaan ini….takut sama yang punya kak…teman-teman di jalan juga kasar-kasar! Pokoknya nggak enaklah hidup di jalan begini” ya…ternyata becak tua itu pun juga sewaan yang pastinya musti ada setoran dari sang bocah kepada pemiliknya. Betapa susah hidup si bocah.
“Tapi aku tak mau mengeluh kak, ibu suka marah kalau aku mengeluh, katanya untuk apa mengeluh toh hidup tidak akan berubah dengan mengeluh, kerja dan berusaha yang bikin hidup kita berubah, yaahh… mudah-mudahan saja suatu saat bisa seperti itu…hahahaha” Sang bocah menutup ceritanya dengan tawa yang renyah, tapi bagiku tawa itu bagai nyanyian pilu seorang anak yatim yang begitumenyayat hati.
Air mataku sudah mau tumpah ketika kusadari aku sudah sampai di depan kost-an dan harus segera turun. Aku menyodorkan selembar uang Rp. 50.000,-.
Tampak si bocah merogoh saku celananya yang sudah usang, “Yaa…nggak ada uang kembalian kak…ni nggak cukup”. Beberapa lembar uang ribuan ia genggam ditangannya.
“Ya sudah…ambil saja dek..anggap saja rejeki dari Allah ok, makasih dah nganter kakak yah!” Sambil tersenyum aku menyerahkan uang tersebut dan berlalu tanpa menunggu respon si bocah, ada setetes air bening yang sempat menetes dari pelupuk mata ini.
SUBHANALLAH…..anak sekecil itu demikian gigih menjalani hidup, polos tapi sudah harus menanggung beban hidup seberat itu…ia pun sudah terlatih untuk tidak mengeluh dengan hidup yang ia jalani, hidup yang rasanya tak pernah terlintas dibenakku.
ASTAGFIRULLAH….apa yang sudah kulakukan selama ini???? Kurenungi diri ini lebih dalam lagi…
Oh…betapa kerdil diri ini….Keluhan kian sering keluar dari mulutku dan terlintas di hati nan kotor ini, menghambur-hamburkan uang orangtua atas nama “kesenangan” yang sebenarnya sifatnya sesaat. Betapa aku tak pernah berpikir susahnya mencari uang, susahnya hidup di atas kaki sendiri, susahnya menerima nasib yang mungkin tidak bersahabat dengan kita tanpa keluhan…
Wahai Dzat yang Maha Pengampun….maafkan aku…maafkan setiap ketidaksyukuran atas segala nikmat yang Engkau berikan. Wahai Dzat yang Maha Menguatkan….kuatkan hati ini untuk tidak lagi pernah mengeluh dengan cobaan yang Engkau beri..ingatkan aku bahwa “AKU MASIH JAUH LEBIH BERUNTUNG DIBANDING ORANG LAIN”. Wahai Dzat yang Maha Penyayang…sayangilah dan peluklah tubuh anak-anak seperti si bocah penarik becak itu…belailah mereka di saat rapuh dan basuhlah airmata mereka ketika dunia membuat mereka harus menitikkan tetesan bening dari kedua mata mereka.
Wahai Rabb-ku…Wahai Allah-ku…Tuhanku yang Maha dari segala Maha...bukakanlah hati kami semua…kami yang tak bisa melihat cahaya-Mu, kami yang tak bisa merasa hikmah dari setia cobaan-Mu, kami yang begitu terlena dengan nikmat yang Engkau beri…nikmat yang sebenarnya bukan milik kami seutuhnya…nikmat yang bisa saja Engkau cabut seketika, kapan pun Engkau menginginkan-Nya….Dan genggamlah hati ini untuk tidak goyah lagi Wahai Sang Penggenggam Jiwa.
Aamiin….

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.