dewasa????
Setiap orang pasti pernah merasakan yang namanya galau, tinggal bagaimana cara mereka menghadapinya. Ada yang gencar mencari solusi, ada yang santai, tapi ada juga yang terbenam dalam kegalauan itu. Aku sendiri masuk dalam tipe santai. Jalan ini sungguh berkelok-kelok, kadang tajam menukik. Masa depan tak bisa diprediksi. Saingan semakin banyak. Kalau mau sukses musti kreatif atau sekolah setinggi-tingginya. Then, karena aku bukan orang yang kreatif, maka kupilih langkah ke2, yaitu sekolah tinggi-tinggi. Baru saja lulus S1, belum diwisuda aku sudah menapaki jalan menuju kota lain. Melanjutkan jejak petualang, mencari pengalaman. Tapi, semua yang kubayangkan tak seperti yang terjadi. Yah...namanya juga khayalan, harapan, kita bisa bermimpi yang indah-indah, berjalan tanpa henti tak kenal yang namanya hambatan. Nah, yang aku dapatkan justru sebaliknya, sejak bulan Agustus sampai Januari tahun baru ini, aku tak menemukan sedikit tempat untuk merajut asa di bangku kuliah lagi. 3 kali ditolak di universitas ternama bukan hal yang tidak mengecewakan. Belajar? Rasanya sudah cukup, sampai dijidatku tertulis FULL MEMORY! Makanya dari pada otakku yang kebetulan pentium 1 ini hank, maka kuputuskan untuk santai sedikit, sebelum mendelete sebagian memory untuk mengisinya lagi dengan hal-hal baru. Jangan heran kalau aku lupa nama seseorang, itu sudah biasa, karena dia mungkin sudah terdelete dari otakku, daripada nggak muat, kan baiknya disingkirkan yang kurang perlu, hehehe.
Sekarang aku masih terpaku depan laptop, mungkin air liurku sebentar lagi bakalan menganak sungai (ikh..jijay). Menghayati setiap kejadian yang terlewati akhir-akhir ini. Berdo'a memohon keselamatan dan rejeki itu sudah menjadi rutinitas yang tak kan pernah terlewati 5 kali sehari shalat malah plus-plus. Tangan Allah juga mungkin bukannya tidak sampai, tapi aku yakin Dia ingin membelaiku dengan kasih sayangNya, makanya aku dibuat terjungkal berkali-kali, supaya kalau jatuh aku berlari memelukNya (pikiran dewasa..cieee). Ngomong-ngomong soal dewasa, umurku sekarang sudah 22 tahun, Oktober tahun ini malah bertambah 1 lagi, yang menurut masyarakat itu sudah tak dikategorikan anak-anak lagi. Tapi rasanya aku masih anak umur 10 tahun (sok muda banget).
Masih kuat tertanam di benakku (memory yang tak bisa terdelete, bak virus mematikan) saat umur segitu aku yang hitam, kurus, dekil, hobby banget yang namanya manjat pohon coklat di samping rumah, kebetulan ada kebun coklat milik tetangga. Kelihatan dari atas tinggiiiiii...banget (padahal nggak seberapa, ketika dilihat sekarang) tapi itu tak membuatku berputus asa, malah semakin tertantang rasanya, apalagi diiringi teriakan bocah-bocah cwo teman bermain, biar dibilang jago akhirnya loncat deh...Walaupun ujung-ujungnya dapat hadiah bercak merah di lutut, nda mulus lagi, rada perih, belum lagi celana + baju jadi kotor. Saat teman-teman bilang jago, kebanggan itu tak bisa terbayar dengan apapun. Tak peduli pula teriakan mama dari seberang sana "Pulang!!! Cari penyakit saja! Mandi!" Aku malah cekikian mendengarnya, ketika mama bergerak mendekat dengan kayu di tangannya aku yang masih tertawa akan lari berputar-putar kemudian masuk ke kamar mandi lewat pintu belakang hehehe... (dasar anak badung).
Waktu begitu cepat berlalu, SD terlewati, masuk SMP di pesantren, SMA di kampung, kembali lagi di pesantren, masuk S1 Farmasi disalah satu universitas negeri di kota angin mamiri, semuanya berjalan lancar bagai air mengalir. Sekarang akhirnya kutemui ombak nan besar, sekali berenang, terhempas lagi ke tempat semula. Hmmm...ini yang harus dihadapi saat kata dewasa diberikan sebagai lebel diri kita, walaupun sebenarnya kita merasa belum berhak menyandang kata sakral itu. Merinding bulu kudukku kalau mendengarnya. hee...
Next, dewasa itu menyerap semua energi baik lahir maupun batin. Musti pintar-pintar ngatur uang bulanan, nabung untuk masa depan, ngirit sana, ngirit sini, sampai makan pun biasanya cuma gorengan + air mineral. Belum lagi masalah-masalah yang musti dihadapin sendiri, perlu terlihat kuat di depan orang, nggak boleh cengeng seperti masih kecil dulu. Kalau waktu kecil ada yang ngerebut boneka kita pasti lari ke mama melapor, nah sekarang kalau suka sama orang terus orangnya enteng-enteng saja, sok cuek, or malah suka sama yang lain, kita musti kuat-kuatin mental. sabar....sambil menggigit ujung bantal. Masalah lain, kayak yang sekarang aku hadapi, nggak tahu mau kemana lagi, mendaftar dimana lagi....bosan? Hmmm...lumayan, tapi tak sampai tahap putus asa. Toh orang tuaku juga orang tua yang the best, santai seperti di pantai melambai-lambai...nda menuntut ini itu, hidupku adalah hidupku, itu menurut mereka, aku yang menentukan semuanya, mereka hanya bisa memberikan support, do'a sama dana segar..hehehehe. thanks ma...pa... ^_^
Finally...dewasa adalah takdir, mau tidak mau tahap ini akan dialami siapa saja, kecuali bagi yang dipanggil Sang Kuasa saat kecil, mau cwo, mau cwe, bencong pun pasti melewatinya. Yang pilihan adalah bangaimana cara kita menghadapi tahap ini. Berhasil kah kita menyandang kata ini or malah terjebak dalam dunia mainan yang kekanak-kanakan.
Sekarang aku masih terpaku depan laptop, mungkin air liurku sebentar lagi bakalan menganak sungai (ikh..jijay). Menghayati setiap kejadian yang terlewati akhir-akhir ini. Berdo'a memohon keselamatan dan rejeki itu sudah menjadi rutinitas yang tak kan pernah terlewati 5 kali sehari shalat malah plus-plus. Tangan Allah juga mungkin bukannya tidak sampai, tapi aku yakin Dia ingin membelaiku dengan kasih sayangNya, makanya aku dibuat terjungkal berkali-kali, supaya kalau jatuh aku berlari memelukNya (pikiran dewasa..cieee). Ngomong-ngomong soal dewasa, umurku sekarang sudah 22 tahun, Oktober tahun ini malah bertambah 1 lagi, yang menurut masyarakat itu sudah tak dikategorikan anak-anak lagi. Tapi rasanya aku masih anak umur 10 tahun (sok muda banget).
Masih kuat tertanam di benakku (memory yang tak bisa terdelete, bak virus mematikan) saat umur segitu aku yang hitam, kurus, dekil, hobby banget yang namanya manjat pohon coklat di samping rumah, kebetulan ada kebun coklat milik tetangga. Kelihatan dari atas tinggiiiiii...banget (padahal nggak seberapa, ketika dilihat sekarang) tapi itu tak membuatku berputus asa, malah semakin tertantang rasanya, apalagi diiringi teriakan bocah-bocah cwo teman bermain, biar dibilang jago akhirnya loncat deh...Walaupun ujung-ujungnya dapat hadiah bercak merah di lutut, nda mulus lagi, rada perih, belum lagi celana + baju jadi kotor. Saat teman-teman bilang jago, kebanggan itu tak bisa terbayar dengan apapun. Tak peduli pula teriakan mama dari seberang sana "Pulang!!! Cari penyakit saja! Mandi!" Aku malah cekikian mendengarnya, ketika mama bergerak mendekat dengan kayu di tangannya aku yang masih tertawa akan lari berputar-putar kemudian masuk ke kamar mandi lewat pintu belakang hehehe... (dasar anak badung).
Waktu begitu cepat berlalu, SD terlewati, masuk SMP di pesantren, SMA di kampung, kembali lagi di pesantren, masuk S1 Farmasi disalah satu universitas negeri di kota angin mamiri, semuanya berjalan lancar bagai air mengalir. Sekarang akhirnya kutemui ombak nan besar, sekali berenang, terhempas lagi ke tempat semula. Hmmm...ini yang harus dihadapi saat kata dewasa diberikan sebagai lebel diri kita, walaupun sebenarnya kita merasa belum berhak menyandang kata sakral itu. Merinding bulu kudukku kalau mendengarnya. hee...
Next, dewasa itu menyerap semua energi baik lahir maupun batin. Musti pintar-pintar ngatur uang bulanan, nabung untuk masa depan, ngirit sana, ngirit sini, sampai makan pun biasanya cuma gorengan + air mineral. Belum lagi masalah-masalah yang musti dihadapin sendiri, perlu terlihat kuat di depan orang, nggak boleh cengeng seperti masih kecil dulu. Kalau waktu kecil ada yang ngerebut boneka kita pasti lari ke mama melapor, nah sekarang kalau suka sama orang terus orangnya enteng-enteng saja, sok cuek, or malah suka sama yang lain, kita musti kuat-kuatin mental. sabar....sambil menggigit ujung bantal. Masalah lain, kayak yang sekarang aku hadapi, nggak tahu mau kemana lagi, mendaftar dimana lagi....bosan? Hmmm...lumayan, tapi tak sampai tahap putus asa. Toh orang tuaku juga orang tua yang the best, santai seperti di pantai melambai-lambai...nda menuntut ini itu, hidupku adalah hidupku, itu menurut mereka, aku yang menentukan semuanya, mereka hanya bisa memberikan support, do'a sama dana segar..hehehehe. thanks ma...pa... ^_^
Finally...dewasa adalah takdir, mau tidak mau tahap ini akan dialami siapa saja, kecuali bagi yang dipanggil Sang Kuasa saat kecil, mau cwo, mau cwe, bencong pun pasti melewatinya. Yang pilihan adalah bangaimana cara kita menghadapi tahap ini. Berhasil kah kita menyandang kata ini or malah terjebak dalam dunia mainan yang kekanak-kanakan.
Leave a Comment