Awas terkena Otitis Media (Congek)

Apa itu Otitis Media?
Otitis Media atau yang biasa kita kenal dengan Congek adalah peradangan (inflamasi) pada telinga bagian tengah. Diduga penyebabnya adalah obstruksi tuba Eustachius dan sebab sekunder yaitu menurunnya imunokompetensi (kemampuan tubuh untuk kebal terhadap penyakit) yang berkaitan dengan adanya infeksi saluran napas atas dan alergi. Infeksi disini biasanya terjadi akibat kelakuan kita yang sering membersihkan telinga dengan cara yang tidak tepat, mengorek-ngorek telinga dengan benda tajam misalnya, sehingga menyebabkan telinga bagian tengah menjadi luka, kemudian menyebabkan beberapa bakteri dan virus dapat bersarang disana ataupun karena alegi terhadap cuaca yang mengakibatkan ingusan yang cenderung tidak kita keluarkan, dihirup lagi, yang tentu saja membawa beberapa bakteri yang kemudian melewati tuba Eustachius ini. Sistem kekebalan tubuh kita akan berusaha melawannya dan merelakan sel darah putih, sehingga terbentuklah nanah.
Streptococcus pneumonia, Hemophilus influenza, dan Moraxella catarrhalis  merupakan bakteri yang paling sering menyebabkan penyakit ini, selain bakteri  Streptococcus pyogenes,Staphylococcus aureus, dan Pseudomonas aeruginosa. Tetapi virus seperti respiratory syncytial virus, influenza virus, rhinovirus, adenovirus dan terisolasi di cairan telinga tengah dengan atau tanpa bakteri bersamaan tejadi lebih dari setengah dari kasus penyakit ini. Sehingga menyebabkan antibiotik sulit memperbaiki keadaan ini.

Bagaimana gejalanya?
Secara umum, gejala Otitis Media dibagi berdasarkan jenisnya, dimana pada otitis media akut ditandai dengan gejala yang muncul cepat seperti: nyeri pada telinga, gangguan pendengaran, pusing, demam, gangguan keseimbangan, dan gelisah. Otitis efusi adalah penumpukan cairan di ruang telinga tengah tanpa gejala penyakit akut. Sedangkan otitis media kronik adalah infeksi menahun pada telinga tengah, terjadi akibat adanya lubang pada gendang telinga (perforasi). Nyeri jarang dijumpai pada otitis kronik, dan dapat menyebabkan hilangnya pendengaran.

Bagaimana gejalanya?
Secara umum, gejala Otitis Media dibagi berdasarkan jenisnya, dimana pada otitis media akut ditandai dengan gejala yang muncul cepat seperti: nyeri pada telinga, gangguan pendengaran, pusing, demam, gangguan keseimbangan, dan gelisah. Otitis efusi adalah penumpukan cairan di ruang telinga tengah tanpa gejala penyakit akut. Sedangkan otitis media kronik adalah infeksi menahun pada telinga tengah, terjadi akibat adanya lubang pada gendang telinga (perforasi). Nyeri jarang dijumpai pada otitis kronik, dan dapat menyebabkan hilangnya pendengaran.

Mengapa lebih sering diderita oleh anak-anak dibanding orang dewasa?
i) Sistem kekebalan tubuh anak masih dalam perkembangan.
ii) Saluran Eustachius pada anak lebih lurus secara horizontal dan lebih pendek sehingga ISPA lebih mudah menyebar ke telinga tengah.
iii) Adenoid (adenoid: salah satu organ di tenggorokan bagian atas yang berperan dalam kekebalan tubuh) pada anak relatif lebih besar dibanding orang dewasa. Posisi adenoid berdekatan dengan muara saluran Eustachius sehingga adenoid yang besar dapat mengganggu terbukanya saluran Eustachius. Selain itu adenoid sendiri dapat terinfeksi di mana infeksi tersebut kemudian menyebar ke telinga tengah lewat saluran Eustachius.

Apakah menular? Bagaimana caranya? Dan apa saja faktor resikonya?
Otitis media atau congek ini adalah salah satu penyakit menular dan oleh karena sebagian besar otitis media didahului oleh infeksi pernapasan atas, maka metode penularan adalah sama seperti pada infeksi pernapasan tersebut.
Adapun faktor resiko dari penyakit ini adalah sebagai berikut:
a. Abnormalitas anatomi: celah langit-langit mulut biasanya disebut dengan sumbing.
b. Musim dingin
c. Hipertropi adenoid (pembesaran tonsil).
d. Down syndrome
e. Infeksi saluran napas pernapasan di keluarga
f. Ras kulit putih
g. Menderita infeksi pertama pada usia muda.

Apa saja terapinya?
a. Terapi Pokok
Terapi otitis media akut meliputi pemberian antibiotika oral dan tetes bila disertai pengeluaran sekret. Lama terapi adalah 5 hari bagi pasien risiko rendah (yaitu usia > 2 tahun serta tidak memiliki riwayat otitis ulangan ataupun otitis kronik) dan 10 hari bagi pasien risiko tinggi. Rejimen antibiotika yang digunakan dibagi menjadi dua pilihan yaitu lini pertama dan kedua. Antibiotika pada lini kedua diindikasikan bila:
1. Antibiotika pilihan pertama gagal
2. Riwayat respon yang kurang terhadap antibiotika pilihan pertama
3. Hipersensitivitas
4. Organisme resisten terhadap antibiotika pilihan pertama yang dibuktikan dengan tes sensitifitas
5. Adanya penyakit penyerta yang mengharuskan pemilihan antibiotika pilihan kedua.
Untuk pasien dengan sekret telinga (otorrhea), maka disarankan untuk menambahkan terapi tetes telinga Ciprofloxacin atau Ofloxacin. Pilihan terapi untuk otitis media akut
yang persisten yaitu otitis yang menetap 6 hari setelah menggunakan antibiotika, adalah memulai kembali antibiotika dengan memilih antibiotika yang berbeda dengan terapi pertama. Profilaksis bagi pasien dengan riwayat otitis media ulangan menggunakan amoksisilin 20 mg/kg satu kali sehari selama 2-6 bulan berhasil mengurangi insiden otitis media sebesar 40-50 %.

Antibiotika pada Terapi Pokok Otitis Media
Antibiotika
             Dosis
Keterangan
Lini Pertama


Amoksisilin
Anak: 20-40 mg/kg/hari terbagi dalam 3 dosis
Dewasa: 40 mg/kg/hari
terbagi dalam 3 dosis
Untuk pasien risiko rendah yaitu: Usia > 2 tahun, tidak mendapat antibiotika
selama 3 bulan terakhir

Anak: 80 mg/kg/hari terbagi dalam 2 dosis
Dewasa: 80 mg/kg/hari terbagi dalam 2 dosis
Untuk pasien resiko tinggi


Lini Kedua


Amoksisilin-
Klavulanat

Anak: 25-45 mg/kg/hari
terbagi dalam  2 dosis
Dewasa: 2 x 875 mg
1 dosis untuk Otitis Media yang baru 3 hari terapi untuk otitis yang resisten

Kotrimoksazol
Anak: 6-12 mg TMP/30-
60 mg SMX/kg/hari
terbagi dalam 2 dosis
Dewasa: 2 x 1-2 tab
Cefuroksim
Anak: 40 mg/kg/hari terbagi dalam 2 dosis
Dewasa: 2 x 250-500 mg  
dosis Dewasa: 2 x 200mg

Ceftriaxone

Anak: 50 mg/kg; max 1 g; i.m.


Cefprozit
Anak: 30 mg/kg/hari terbagi dalam 2 dosis
Dewasa: 2 x 250-500 mg

Erythromycin- Sulfisoxazole
50 mg/kg/hari terbagi dalam 3-4 dosis

Trimethoprim- Sulfisoxazole
8-10 mg/kg/hari terbagi dalam 2 dosis

Cefixime
Anak: 8 mg/kg/hari terbagi dlm 1-2 dosis
Dewasa: 2 x 200 mg
1 dosis untuk Otitis Media yang baru 3 hari terapi untuk otitis yang resisten
b. Terapi Penunjang
Terapi penunjang dengan analgesik dan antipiretik memberikan kenyamanan khususnya pada anak. Terapi penunjang lain dengan menggunakan dekongestan, antihistamin, dan kortikosteroid pada otitis media akut tidak direkomendasikan, mengingat tidak memberikan keuntungan namun justru meningkatkan risiko efek samping.
Dekongestan dan antihistamin hanya direkomendasikan bila ada peran alergi yang dapat berakibat kongesti pada saluran napas atas. Sedangkan kortikosteroid oral mampu mengurangi efusi pada otitis media kronik lebih baik daripada antibiotik tunggal. Penggunaan Prednisone 2 x 5 mg selama 7 hari bersama-sama antibiotika efektif menghentikan efusi.

Referensi
Dipiro. Joseph T., et all. 2008. Pharmacoteraphy Principle and Practice. The McGraw-Hill Companies, Inc. United States.
Direktorat Bina Farmasi Komunitas Dan Klinik. 2005. Pharmaceutical Care untuk Penyakit Infeksi Saluran Napas. Departemen Kesehatan RI. Jakarta.
Sukandar, Elin Y., dkk. 2008. ISO Farmakoterapi. PT. ISFI. Jakarta.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.